Pandeglang Kote Kite: Kampus STIA | LDK | KAMMI | Bisnis

Pelestarian Lingkungan Hidup Berbasis Local Wisdom (Kearifan Lokal)

Permasalahan lingkungan menjadi suatu permasalan besar dan semakin merisaukan baik permasalahan sampah, hutan gundul yang menyebabkan banjir hingga bencana lingkungan yang terjadi di Indonesia. Kondisi kerusakan hutan dan degradasi lingkungan membawa akibat pada pemanasan global. Pemanasan global (Global warming) selanjutnya mengakibatkan perubahan iklim (Climate Change) yang pada akhirnya mengancam kehidupan manusia, alam dan lingkungan sekitar. Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yaitu seluas ± 138 juta Ha dimana di dalamnya terkandung kekayaan alam yang luar biasa besar berfungsi sebagai paru-paru dunia. Namun, kondisi hutan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir telah mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perubahan tata guna lahan, deforestasi dan illegal logging, penjarahan hutan, alih fungsi lahan, perambahan kawasan, kebakaran hutan dan tindak kejahatan hutan lainnya.

Dengan melihat letak geografis Indonesia, maka bisa dibayangkan betapa kayanya negeri ini akan budaya dan adat istiadat. Setiap subkultur menyumbangkan kontribusi yang unik dan saling melengkapi. Ada subkultur Kraton di Yogyakarta yang menjadi basis industri seni dan pariwisata. Ada kearifan lokal di Minang dengan sistem matriakal (ibu punya power yang lebih besar daripada bapak), ternyata mendasari bisnis yang terkait dengan apa yang dikuasai ibu, misalnya rumah makan. Tantangan terberat bagi negeri kita adalah menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu upaya adalah membiasakan perilaku mencintai lingkungan pada masyarakat sehingga diharapkan akan terjadi perubahan pola pikir, sikap dan perubahan perilaku secara terus menerus, sehingga kebiasaan menjadi suatu kegiatan spontanitas bukan suatu kegiatan yang harus diperingatkan. Dalam hal ini peran aktif dan partisipasi masyarakat sangat diharapkan baik dimulai dari kegiatan rumah tangga, sekolahan dan tempat - tempat umum lainnya hususnya masyarakat di sekitar lahan dan hutan lindung yang makin kritis. Di Bali, sistem Subak mengajarkan keseimbangan, sehingga alam tetap lestari. Begitu pula diharapkan terjadi di Pandeglang dan Lebak. Di Pandeglang khususnya di daerah Ujung Kulon ada penangkaran hutan lindung untuk melindungi badak bercula satu. Di Lebak, adanya suku Baduy yang sangat menjaga kelestarian lingkungan. Kearifan lokal inilah yang akan kita tekankan untuk melaksanakan program pelestarian lingkungan.

Kearifan lokal (local wisdom) ini jika dimanfaatkan, dapat membantu untuk program pelestarian lingkungan pada hutan kritis yaitu hutan di luar kawasan milik Perum Perhutani yang meliputi hutan di Gunung Aseupan, Ka­rang, dan Pulosari (Akarsari). Lahan hutan kritis itu letaknya dekat de­ngan pemukiman warga, yaitu di kaki gu­nung. Maka ancaman banjir dan longsor akan terus menghantui warga. Faktor perubahan fungsi lahan hutan yang ter­jadi karena ada perambahan hutan oleh ma­syarakat dan penggunaan lahan hutan se­bagai lokasi hak guna usaha (HGU) menjadi bagian lain yang berkontribusi bagi lingkungan. Apalagi kalau lokasi HGU ke­mu­d­ian ditelantarkan dan tak dilakukan pe­nanaman kembali yang akhirnya jadi lahan tidur. Ma­yoritas lahan kritis berada di kawasan bagian se­latan Pandeglang, di antaranya di Cibali­ung, Cigeulis, Cimanggu, dan Cibitung. Untuk menangani persoalan ini, Dishut­ Pan­deglang melakukan penanaman bibit po­hon di 25 titik se-Pandeglang yang men­jadi satu rangkaian dengan program Ke­menterian Kehutanan yaitu penanaman­ satu milyar pohon. Karena ke­lestarian hutan di Pandeglang patut jadi ba­han pemikiran semua pihak, khu­sus­nya Pemerintah kabupaten lantaran sebagian besar ma­syarakat­ sekitar hutan belum peduli ter­hadap kelestarian alam.

Dari data yang diketahui, sebanyak 15.000 hektar hutan rakyat yang tersebar di 35 kecamatan di Kabupaten Pandeglang, berada dalam kondisi kritis dan perlu mendapatkan gerakan penghijauan kembali untuk menjaga pelestarian alam dan lahan. Hampir setiap hari ribuan kubik kayu di hutan rakyat dijual ke luar daerah akibat desakan ekonomi masyarakat. Hutan rakyat yang kritis itu disebabkan tidak seimbangnya antara penebangan dan penanaman, sehingga harus segera dilakukan gerakan penghijauan agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah. Seandainya hutan rakyat itu dibiarkan begitu saja, tanpa penghijauan kembali dikhawatirkan terjadi kerusakan yang dapat menimbulkan bencana banjir, longsoran tanah juga kesulitan air bersih. Oleh karena itu, pihak dinas kehutanan berencana akan menanam pohon sekitar 10.000 batang di lahan hutan milik masyarakat. Penanaman itu salah satu upaya untuk pelestarian alam pada hutan yang berpotensi "gundul" agar dapat kembali hijau. Sebab, terjadinya penebangan hutan rakyat karena sebagian besar petani di Kabupaten Pandeglang kehidupannya mengandalkan dari pertanian tanaman keras. Penghijauan hutan milik masyarakat perlu mendapatkan perhatian, baik pemerintah maupun masyarakat untuk dilakukan reboisasi agar tidak menjadi lahan produksi.

Sementara itu, hutan kritis di Kabupaten Lebak, Banten hingga Mei 2011 mencapai 16.000 hektar dan terus dilakukan rehabilitasi penghijauan melalui gerakan tanaman aneka pohon di lahan tersebut. Ditargetkan tahun ini rehabilitasi penghijauan bantuan pemerintah dan swadaya masyarakat sekitar 8.000 hektar. Selama ini kerusakan hutan milik masyarakat akibat penebangan pohon dan penanaman tidak seimbang. Selain itu, juga pelaku pembalakan liar di hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan hutan lindung. Penyebab itulah, yang menyebabkan kondisi hutan di Kabupaten Lebak menjadi kritis. Namun demikian, sejak empat tahun terakhir kondisi hutan kritis terus berkurang karena terus dilakukan gerakan penghijauan. Berdasarkan data 2004 hutan kritis di Kabupaten Lebak seluas 36.000 hektare, namun kini turun menjadi 16.000 hektare. Ini bukti keseriusian pemerintah daerah dan masyarakat sudah menyadari pentingnya pelestarian hutan dan lahan. Berkurangnya lahan kritis dengan mengoptimalkan gerakan rehabilitasi dan penghijauan yang dilaksanakan pemerintah pusat, pemerintah daerah juga masyarakat secara swadaya. Pemerintah Pusat melalui dana APBN 2011 memprogramkan persemaian kebun bibit rakyat (KBR) sebanyak 1,7 juta bibit jenis kayu-kayuan dan hortikultura. Bibit tanaman itu, nantinya dibagikan kepada masyarakat untuk melakukan penghijauan di lahan miliknya. Di samping juga melakukan penanaman di sekitar bantaran sungai, dan daerah tangkapan air. Dengan program ini tentu selain dapat mencegah terjadi lahan kritis juga bisa mengatasi bencana alam seperti tanah longsor, banjir dan kelangkaan air. Pemerintah daerah terus mendorong masyarakat agar menjaga pelestarian hutan dan alam dengan melakukan gerakan penghijauan jenis tanaman keras. Apalagi, saat ini Bupati Lebak telah memotivasi masyarakat agar gemar menanam pohon albazia, selain bisa menambah penghasilan juga dapat melestarikan lingkungan alam. Bahkan, gerakan penghijauan itu masyarakat menanam aneka jenis pohon sebanyak 1,2 juta atau sama dengan jumlah penduduk Kabupaten Lebak.

Walaupun Pemerintah daerah Pandeglang dan Lebak telah berusaha semaksimal mungkin melakukan gerakan reboisasi namun hanya masih jauh dari target dan belum berjalan maksimal karena lahan kritis yang tersedia masih cukup banyak dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan masih rendah, yang berefek pada penebangan pohon secara membabi buta demi alasan ekonomi.

Penulis, Pegiat Lingkungan Hidup Pusat Data dan Laboraturiom (Pusdal) Kabupaten Pandeglang